Arsenal kembali menghadapi momen krusial dalam perburuan gelar Premier League musim ini. Kekalahan dari Manchester United di Emirates Stadium menjadi hasil negatif ketiga secara beruntun tanpa kemenangan.

Situasi ini membuat keunggulan mereka di puncak klasemen mulai tergerus. Sebelumnya, Arsenal sempat memimpin dengan selisih tujuh poin yang terlihat cukup aman. Namun, dalam hitungan pekan, jarak tersebut menyusut menjadi empat poin. Kondisi ini mengingatkan bahwa persaingan di Premier League sangat dinamis dan tidak memberi ruang untuk lengah.
Meski posisi Arsenal masih menguntungkan, kegelisahan mulai terasa di kalangan pendukung. Mereka paham bahwa setiap kehilangan poin dapat menjadi titik balik, terutama saat memasuki fase musim yang menuntut konsistensi tinggi.
AYO DUKUNG TIMNAS GARUDA, sekarang nonton pertandingan bola khusunya timnas garuda tanpa ribet, Segera download!
![]()
Luka Lama Arsenal yang Belum Sepenuhnya Sembuh
Sejarah menunjukkan bahwa Arsenal pernah beberapa kali berada di posisi serupa. Dari tiga kesempatan memimpin klasemen pada tahap ini, hanya satu yang berujung gelar, yakni musim legendaris 2003/2004 saat mereka tak terkalahkan.
Musim 2022/2023 menjadi kenangan pahit terbaru. Arsenal sempat unggul hingga delapan poin, namun justru kehilangan kendali di fase akhir. Tekanan meningkat, kesalahan kecil muncul, dan Manchester City berhasil mengambil alih momentum.
Musim 2002/2003 juga menjadi pelajaran penting. Arsenal memimpin dengan selisih lima poin, tetapi tekanan psikologis yang dikenal sebagai squeaky bum time membuat mereka tergelincir dan akhirnya finis di belakang Manchester United.
Baca Juga: Dani Ceballos Terpinggirkan di Era Baru Alvaro Arbeloa
Data Sejarah yang Masih Berpihak pada Arsenal

Meski bayang-bayang masa lalu menghantui, statistik Premier League sebenarnya masih memberi harapan besar. Dari 20 tim yang memimpin dengan keunggulan minimal empat poin pada tahap ini, hanya empat yang gagal menjadi juara.
Kasus kegagalan terbesar memang ada, seperti Newcastle United yang menyia-nyiakan keunggulan 12 poin pada 1996. Namun, kejadian seperti itu tergolong langka dan sering dijadikan pengecualian, bukan pola.
Bahkan pekan lalu, saat Arsenal masih unggul tujuh poin, sejarah menunjukkan tidak ada tim di era modern yang gagal juara dengan keunggulan sebesar itu setelah 22 pertandingan. Fakta ini menegaskan bahwa peluang Arsenal masih sangat terbuka.
Suara Para Legenda dan Ujian Karakter Arteta
Analisis Opta memberi Arsenal peluang 81,7 persen untuk menjadi juara berdasarkan ribuan simulasi. Namun, para pundit tetap menyoroti aspek mental sebagai faktor penentu utama. Patrick Vieira menilai Arsenal harus memanfaatkan momen ini karena rival tidak berada di performa terbaik. Ia menekankan pentingnya kebersamaan tim agar tekanan tidak merusak fokus pemain.
Peter Schmeichel menyoroti minimnya pengalaman juara sebagai tantangan internal, sementara Alan Shearer meminta Arsenal tetap tenang. Mikel Arteta sendiri menyadari margin yang semakin tipis dan menegaskan bahwa respons tim akan terlihat pada laga berikutnya melawan Leeds United.
Dapatkan berita sepak bola terbaru setiap hari, mulai dari skor langsung, analisis pertandingan, kabar transfer, dan prediksi akurat yang bisa kalian ikuti secara lengkap dan eksklusif hanya di footballroar.com.
